 |
Imbauan tak Digubris, Sampah Tetap Berserakan di Sungai Citarum
|
NGAMPRAH, (PRLM).- Sampah masih berserakan di
bantaran Sungai Citarum, Jembatan Batujajar, Desa Selacau, Kecamatan
Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Adanya spanduk larangan membuang sampah di kawasan tersebut pada
kenyataannya tidak berdampak banyak bagi kebersihan lingkungan.
Tumpukan sampah yang paling kentara berada di ujung selatan jembatan
BBS. Di termpat itu, sampah terlihat menumpuk dibalik spanduk larangan
membuang sampah ke bantaran sungai yang dibuat oleh Pemkab Bandung
Barat.
Beragam jenis sampah berserakan, mulai dari sampah plastik, hingga
sisa-sisa bekas makanan. Hal itu juga menimbulkan bau yang tidak sedap.
Ace (60), warga Kampung Sinarmukti, Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, mengeluhkan kondisi tersebut.
Menurutnya, hal itu menunjukkan masih minimnya pengelolaan sampah
oleh pemerintah dan tidak kunjung membaiknya perilaku masyarakat dalam
hal membuang sampah sembarangan.
“Padahal, lokasi tersebut berdekatan dengan sungai. Bisa saja kalau
sedang ada hujan, sampah turun ke bawah lalu mengalir ke sungai.
Apalagi, sampah kiriman dari daerah lain juga sudah banyak di sungai ini
bila hujan sedang deras-derasnya,” kata dia, Senin (6/1/2014).
Menurutnya, perlu ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk segera
menuntaskan persoalan sampah yang menumpuk di sekitar bantaran Sungai
Citarum, terutama yang ada di sekitar daerah Jembatan Batujajar. Dia
mengharapkan adanya pengangkutan sampah secara rutin agar kebersihan
tetap terjaga.
Juariah (56), warga Desa Selacau, mengatakan, sampah yang menumpuk di
sekitar bantaran sungai maupun jembatan itu sebagian besarnya bukan
berasal dari warga sekitar. Namun banyak juga yang berasal dari daerah
di luar Kecamatan Batujajar. Hal itu bisa terjadi karena daerah tersebut
dilalui oleh jalan raya.
“Tumpukan sampah itu terlihat seperti sekarang ini baru sekitar dua
bulan ke belakang. Memang persoalan sampah di daerah ini tidak pernah
tuntas. Setiap kali dibersihkan, selalu kotor lagi. Bahkan yang lebih
ironis, spanduk larangan buang sampah malah dijadikan tempat pembuangan
sampah,” tuturnya.
Dia menambahkan, bila hujan turun, banyak sampah di bantaran sungai
yang terbawa arus. Bila permukaan sedang tinggi, sampah yang terbawa
arus dari daerah lain juga meningkat.
Menurutnya, seringkali ada sekitar 10 rakit pengangkut sampah bila
permukaan air sedang tinggi dan volume sampah di aliran sungai sedang
banyak-banyaknya. “Saat ini sampah yang ada di aliran sungai tergolong
masih belum banyak. Permukaan airnya juga belum tinggi,” tuturnya.
Kepala UPT Kebersihan Kabupaten Bandung Barat, Apit Ahmad Hanif
mengakui, bahwa penanganan sampah di sekitar Sungai Citarum Jembatan
Batujajar belum maksimal. Lantaran tidak adanya pengawasan, pembuangan
sampah sembarangan terus terjadi.
Menurutnya, saat ada pengawasan dari petugas lingkungan hidup daerah,
sampah cenderung bisa dikendalikan di kawasan tersebut. Namun saat ini,
dirinya melihat pengawasan di daerah tersebut sudah tidak ada selama
beberapa bulan terakhir. Pada akhirnya, beberapa lokasi di sekitar
bantaran sungai dan jembatan menjadi tempat pembuangan sampah liar.
“Selama masih ada pengawasan, kami sempat bekerja sama juga untuk
mengangkut sampah di sana. Namun sampai sekarang belum ada lagi. Tapi,
permasalahan sampah di sekitar jembatan dan bantaran Sungai Citarum akan
menjadi agenda kami. Saat ini kami masih memprioritaskan dulu
penanganan sampah hasil selebrasi tahun baru kemarin,” tuturnya.
Dia mengakui, penanganan sampah di kawasan tersebut cukup sulit
selama tidak ada pengawasan rutin. Pasalnya, karena relatif banyak
dilalui oleh orang banyak, sampah akan terus-menerus ada.
Dia juga mengatakan, sampah yang ada di bantaran Sungai Citarum di
Kecamatan Batujajar berasal dari tempat lain, terutama dari Kecamatan
Cihampelas, dan Cililin.
“Karena itu, upaya untuk membuat volume sampah sampai ke titik nol di
daerah jembatan dan bantaran sungai akan sangat menyedot anggaran,”
tuturnya. (A-204/A-89)***
Dikutip dari : Pikiran Rakyat Online