Tampilkan postingan dengan label citarum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label citarum. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

BPK RI Sudah Terima Laporan Pencemaran Citarum



Ali Masyur Musa, saat menjadi narasumber mengenai peran mahasiswa dalam pemberantasan korupsi yang diadakan di Universitas Singaperbangsa Karawang
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kabupaten Karawang bekerjasama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Karawang adakan workshop pengelolaan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) dan Non B3 di Gedung Singaperbangsa lantai III, Selasa (25/2).

Workshop yang mengusung tema lingkungan itu mengundang narasumber dari Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia Ali Masykur Musa, Deputi 1V Bidang Pengeloaan Limbah B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia, Sayid Muhadhar dan Kepala Bidang Pengawasan Pencemaran, Suharsono dari BPLHD Provinsi Jawa Barat. Dalam workshop tersebut dihadiri juga oleh Bupati Karawang, H Ade Swara beserta jajaran pemerintahan, Polres Karawang serta peserta dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perusahaan di beberapa kawasan industri di Karawang yang turut hadir dalam workshop tersebut.
Bupati H Ade Swara mengungkapkan, Pemkab Karawang saat ini sedang berkonsentrasi dalam segi pengelolaan lingkungan hidup. Sementara itu, pemerintah pusat mengarahkan pembangunan kawasan industri di Karawang. Sementara, komitmen Pemkab Karawang tetap harus menjaga lahan pertaniannya. “Kami da meminta arahan dari pemerintah pusat dari segi pengelolaan lingkungan hidup. Dimana, saat ini pemerintah pusat mengarahkan pembangunan kawasan industrinya di Karawang. Disisi lain kami harus memperhatikan lahan pertanian di Karawang,” ujarnya.
Anggota BPK Republik Indonesia, Ali Masyur Musa mengatakan, menyangkut masa depan lingkungan hidup di Indonesia hubungannya dengan ketahanan pangan (pertanian) dan menjaga tata ruang serta ekosistem, sama halnya juga di Karawang. Pihaknya terus mengawasi beberapa hal terutama terhadap perusahaan dalam segi pengelolaan lingkungan hidupnya. Ketersediaan sumber daya alam (SDA), lanjutnya, di Indonesia mulai menurun dari tahun ke tahun, akibat ekploitasi tanpa henti tanpa ada reklamasi setelahnya. “10 tahun yang lalu indonesia termasuk dalam Organisasi OPEC, Negara yang mengekspor minyak. Tapi, saat ini kita bukan bagian dari OPEC dan bahkan mengimpor minyak dari luar, kenapa bisa terjadi demikian?. Kondisi tersebut dikarenakan SDA kita tidak diolah dengan baik. Dikhawatirkan, nantinya generasi selanjutnya tidak akan bisa merasakan nikmatnya SDA Indonesia tidak punya minyak, batu bara dan lain- lain,” ungkapnya. “Terkait dengan ketahanan pangan, jangan sampai kita kembali mengimpor beras dari negara-negara tetangga, khususnya Vietnam dan Thailand. Beberapa bulan yang lalu Indonesia dikejutkan dengan impor illegal beras yang jumlahnya sekitar 16 ribu ton yang tentu menyebabkan persaingan harga yang akan menimbulkan kerugian bagi para petani, khusunya di Karawang,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, dalam dunia kepemimpinan, idealnya pemimpin harus bisa memiliki konsep pro terhadap pertumbuhan pembangunan industri dan pro terhadap lingkungan hidup.
“Dalam perkembangan pembangunan setiap pemimpin daerah harus memiliki konsep yang seimbang antara pembangunan dibidang industri dan lingkungan hidup. Kalau dibandingkan penerimaan pendapatan daerah itu tidak besar kalau daerah tersebut juga harus mengeluarkan pengelolaan lingkungan hidup yang telah rusak, jadi percuma saja industri berkembang pesat tetapi lingkungan hidup rusak,” katanya.
“Bukti yang jelas bagaimana kerusakan alam ini meningkat setiap tahunnya itu yakni dulu BNPB dialokasikan anggaran Rp1,5 trilyun dan saat ini sudah lebih dari Rp 6,5 trilyun Negara mengalokasikan dananya terhadap penanggulangan bencana,” ujarnya.
Diakuinyaa, dirinya telah menangani 17 perusahaan yang melakukan kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai citarum di daerah hulu sungai dan rencana kedepan akan melakukan pemeriksaan di wilayah hilir sungai. “Saya sudah memeriksa 17 perusahaan yang diduga telah melakukan pencemaran terhadap Sungai Citarum dan akan melanjutkan ke wilayah hilir yang memang masuk daerah Kabupaten Karawang. Kalau memang terbukti saya akan langsung melaporkannya ke bareskrim,” katanya.
Terkait permasalahan lingkungan hidup di Karawang, BPK RI menghimbau kepada bupati untuk konsen terhadap pengelolaan lingkungan hidup khususnya dibidang pertanian dan Sungai Citarum. “Permasalahan di Karawang ini adalah alih fungsi lahan dari lahan-lahan produktif untuk kepentingan industry. Sehingga mengganggu ketahanan pangan di Indonesia, karena itu saya meminta kepada bupati memegang teguh mana yang menjadi tata ruang lahan pertanian berkelanjutan dan tidak boleh dipindahkan untuk kepentingan industry,” paparnya.
“Selanjutnya tingkat polusi dan pencemaran di Karawang secara umum sudah sangat meningkat karena menurut data yang saya dapatkan banyak perusahaan yang membuang limbahnya ke Sungai Citarum di Karawang,” sambungnya.(yfs)

Dikutip dari : Koran Kabar Gapura Karawang.

Posted By Unknown20.00

Kamis, 09 Januari 2014

Imbauan tak Digubris, Sampah Tetap Berserakan di Sungai Citarum

Filled under: ,


Imbauan tak Digubris, Sampah Tetap Berserakan di Sungai Citarum


NGAMPRAH, (PRLM).- Sampah masih berserakan di bantaran Sungai Citarum, Jembatan Batujajar, Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Adanya spanduk larangan membuang sampah di kawasan tersebut pada kenyataannya tidak berdampak banyak bagi kebersihan lingkungan.
Tumpukan sampah yang paling kentara berada di ujung selatan jembatan BBS. Di termpat itu, sampah terlihat menumpuk dibalik spanduk larangan membuang sampah ke bantaran sungai yang dibuat oleh Pemkab Bandung Barat.
Beragam jenis sampah berserakan, mulai dari sampah plastik, hingga sisa-sisa bekas makanan. Hal itu juga menimbulkan bau yang tidak sedap.
Ace (60), warga Kampung Sinarmukti, Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, mengeluhkan kondisi tersebut.
Menurutnya, hal itu menunjukkan masih minimnya pengelolaan sampah oleh pemerintah dan tidak kunjung membaiknya perilaku masyarakat dalam hal membuang sampah sembarangan.
“Padahal, lokasi tersebut berdekatan dengan sungai. Bisa saja kalau sedang ada hujan, sampah turun ke bawah lalu mengalir ke sungai. Apalagi, sampah kiriman dari daerah lain juga sudah banyak di sungai ini bila hujan sedang deras-derasnya,” kata dia, Senin (6/1/2014).
Menurutnya, perlu ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk segera menuntaskan persoalan sampah yang menumpuk di sekitar bantaran Sungai Citarum, terutama yang ada di sekitar daerah Jembatan Batujajar. Dia mengharapkan adanya pengangkutan sampah secara rutin agar kebersihan tetap terjaga.
Juariah (56), warga Desa Selacau, mengatakan, sampah yang menumpuk di sekitar bantaran sungai maupun jembatan itu sebagian besarnya bukan berasal dari warga sekitar. Namun banyak juga yang berasal dari daerah di luar Kecamatan Batujajar. Hal itu bisa terjadi karena daerah tersebut dilalui oleh jalan raya.
“Tumpukan sampah itu terlihat seperti sekarang ini baru sekitar dua bulan ke belakang. Memang persoalan sampah di daerah ini tidak pernah tuntas. Setiap kali dibersihkan, selalu kotor lagi. Bahkan yang lebih ironis, spanduk larangan buang sampah malah dijadikan tempat pembuangan sampah,” tuturnya.
Dia menambahkan, bila hujan turun, banyak sampah di bantaran sungai yang terbawa arus. Bila permukaan sedang tinggi, sampah yang terbawa arus dari daerah lain juga meningkat.
Menurutnya, seringkali ada sekitar 10 rakit pengangkut sampah bila permukaan air sedang tinggi dan volume sampah di aliran sungai sedang banyak-banyaknya. “Saat ini sampah yang ada di aliran sungai tergolong masih belum banyak. Permukaan airnya juga belum tinggi,” tuturnya.
Kepala UPT Kebersihan Kabupaten Bandung Barat, Apit Ahmad Hanif mengakui, bahwa penanganan sampah di sekitar Sungai Citarum Jembatan Batujajar belum maksimal. Lantaran tidak adanya pengawasan, pembuangan sampah sembarangan terus terjadi.
Menurutnya, saat ada pengawasan dari petugas lingkungan hidup daerah, sampah cenderung bisa dikendalikan di kawasan tersebut. Namun saat ini, dirinya melihat pengawasan di daerah tersebut sudah tidak ada selama beberapa bulan terakhir. Pada akhirnya, beberapa lokasi di sekitar bantaran sungai dan jembatan menjadi tempat pembuangan sampah liar.
“Selama masih ada pengawasan, kami sempat bekerja sama juga untuk mengangkut sampah di sana. Namun sampai sekarang belum ada lagi. Tapi, permasalahan sampah di sekitar jembatan dan bantaran Sungai Citarum akan menjadi agenda kami. Saat ini kami masih memprioritaskan dulu penanganan sampah hasil selebrasi tahun baru kemarin,” tuturnya.
Dia mengakui, penanganan sampah di kawasan tersebut cukup sulit selama tidak ada pengawasan rutin. Pasalnya, karena relatif banyak dilalui oleh orang banyak, sampah akan terus-menerus ada.
Dia juga mengatakan, sampah yang ada di bantaran Sungai Citarum di Kecamatan Batujajar berasal dari tempat lain, terutama dari Kecamatan Cihampelas, dan Cililin.
“Karena itu, upaya untuk membuat volume sampah sampai ke titik nol di daerah jembatan dan bantaran sungai akan sangat menyedot anggaran,” tuturnya. (A-204/A-89)***

Dikutip dari : Pikiran Rakyat Online

Posted By Unknown21.00

Senin, 06 Januari 2014

Polda Bakal Bantu Pemprov Jabar "Perangi" Limbah Sungai Citarum

Filled under: ,



BANDUNG - Polda Jawa Barat menyambut baik wacana pemerintah provinsi mempidanakan pengelola industri yang kedapatan membuang limbah beracun ke Sungai Citarum. “Kami sambut baik hal itu. Yang pasti kami akan bantu maksimal penegakan hukum bagi para pelaku pencemaran lingkungan,” kata Kapolda Jabar, Irjen Pol Mochamad Iriawan di Bandung.

Menurutnya penanganan kasus seperti itu mengharuskan adanya kerjasama antara pemerintah daerah dan aparat kepolisian agar bisa menyeret pelaku keranah hukum. “Itu kan harus ada amdal-nya (analisis dampak lingkungan), nanti kami cek benar atau tidaknya. Lalu kami juga butuh saksi ahli dari instansi terkait,” jelasnya.

Bahkan, pihaknya telah menyiapkan tim khusus dari Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), yakni Unit Lingkungan Hidup, untuk membantu pemerintah menindaklajuti kasus itu.

Sebelumnya, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengaku dalam waktu dekat bakal melakukan penegakan hukum terhadap industri yang membuang limbah beracun ke Sungai Citarum. Pemilik hingga manajemennya terancam dipidanakan bila tak segera mengolah air limbah sesuai standar.

Salah satu penegasan yakni penegakan hukum tegas terhadap setidaknya 71 industri yang berlokasi di bantaran Sungai Citarum 20 kilometer pertama. "Tidak ada toleransi lagi. Ke-71 industri dan lainnya yang belum terdata, harus segera mengoperasikan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang memenuhi standar. Kalau tidak, polisi akan menyeretnya ke pengadilan," tandas Heryawan.

Untuk memastikan penegakan hukum terhadap industri pencemar Sungai Citarum berjalan konsisten, Gubernur mengutarakan, pemprov akan menjalin kesepakatan khusus dengan Polda Jawa Barat. "Kerjasama (pemprov) dengan polisi harus kuat," tuturnya.  (ris)

Dikutip dari : okezone.com

Posted By Unknown00.25

71 Industri Pencemar Sungai Citarum Segera Ditindak

Filled under: ,

Gelontoran Limbah dari perusahaan- perusahaan yang berada di Bantaran Sungai Citarum
Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Barat segera menindak 71 industri yang dianggap mencemari Sungai Citarum. Dari catatan, seluruh industri itu berada sekitar 20 km pertama bantaran Sungai Citarum.

"Tidak ada toleransi lagi. Industri harus segera mengoperasikan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang memenuhi standar. Kalau tidak, polisi akan menyeret ke pengadilan," kata Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan di Bandung, Jumat 3 Januari 2014.

Guna melakukan penegakan hukum, Pemprov Jabar akan menjalin kerjasama dengan Polda Jawa Barat. Hal ini dilakukan agar penindakan terhadap seluruh industri itu berjalan secara berkelanjutan.

"Kerjasama dengan polisi harus kuat, agar penindakannya berjalan konsisten," katanya.

Sementara itu Dirjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum, Mochammad Hasan memastikan untuk mendukung program yang dilakukan Pemprov Jabar. Bahkan akan disiapkan anggaran khusus.

"Pemerintah pusat sangat mendukung, termasuk menyiapkan anggaran khusus. Kita berharap penanganan akan tuntas pada 2017 nanti," kata Hasan.

Sungai Citarum merupakan sungai yang mengalami titik pencemaran terberat di Indonesia. Kawasan ini sedang masuk program normalisasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Sungai ini bahkan sempat mendapat predikat sebagai sungai terkotor di dunia. Ruas sungai yang paling parah mengalami pencemaran berada sekitar 0-77 km. Lokasinya, mulai dari Situ Cisanti sampai Waduk Saguling. (adi)

Dikutip dari : Vivanews.com

Posted By Unknown00.18

forkadasC+ Present #GoGreen #MetamorforSelf



Puluhan anak muda sangat antusias sekali melihat Street Photograpy
13 Komunitas di Kabupaten Karawang yakni forkadasC+, Sahabat Citarum, Citarum lovers, Reinkarnation, Puteri padi, Shuffle Squad, Stand up Comedy, BMX163, SkateboardKRW, Bara Rimba, Klaten Community, Paguyuban e45 dan Karinding Nyawang menggelar kegiatan lingkungan dengan bertemakan “Go Green Metamorforself” pada minggu pagi di alun- alun Kabupaten Karawang (12/22).


Dalam kegiatan tersebut  selain operasi bersih- bersih di area alun- alun, mereka menampilkan pertunjukan music akustik dan pameran photo bertemakan lingkungan dan interaksi manusia, ada sekitar 99 photo dari sumbangan beberapa photographer di Kabupaten Karawang.

Sekertaris Umum forkadasC+ Aep Saepudin mengungkapkan, kami melihat dari beberapa fakta dilapangan seperti ada di dalam 99 photo yang kami pamerkan begitu banyak bukti- bukti tentang kerusakan alam oleh perbuatan manusia, alih fungsi lahan dan tumpukan sampah berserakan bukan pada tempatnya. Kendati, banyaknya larangan buang sampah ke sungai dan larangan untuk jangan buang sampah sembarangan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat kebersihan dirasa masih kurang dan parahnya buang sampah bukan pada tempatnya menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat. Oleh karenanya kami dari berbagai komunitas menggagas kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan berharap bisa merubah pola kebiasaan buruk pribadi kami dan masyarakat  untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Salah satu peserta kegiatan Willy dari bara rimba juga mengungkapkan, kegiatan ini harus sering dilakukan setiap minggunya, bukan tidak mungkin kegiatan bersih – bersih ini bisa menjadi pemicu semangat bagi masyarakat untuk merawat lingkungan dan mudah diduplikasikan oleh sebagian masyarakat. 

“Kami akan terus mengajak komunitas- komunitas yang lainnya untuk bergerak bersama untuk mewujudkan Karawang bersih dan nyaman” ujar Aep. 

Ditulis Oleh : Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum

Posted By Unknown00.01

Kamis, 10 Januari 2013

"CITARUMKU MENGHITAM"

CITARUM KU MENGHITAM - From The Past, Present and Future

wujudan dari berdukanya sungai citarum atas tertutupnya mata hati kita semua terhadap Alam disekitar kita yang memberikan keselarasan, keseimbangan dalam kehidupan...

Forka DAS Citarum mempersembahkan sebuah pertunjukan teatrikal yang berkonsep edukatif untuk citarum. Menampilkan :
- Musikalisasi Puisi
- Drama Musikal
- Tari Kontemporer
- Musik Etnik
- Dan Lain-lain

COMING SOON...!!

Posted By Unknown12.35

Sabtu, 29 Desember 2012

Semangat para relawan #CitarumLovers

Gambar diatas adalah keadaan stand #SaveOurCitarum di karawangExpo walau terus diguyur hujan tapi semangat tetap membara, Alhamdulillah kita diberi kesempatan untuk membuka lapak dagangan di stand oleh pihak panitia karawangExpo.
Kita selaku relawan yang peduli citarum benar- benar terbantu dengan adanya karawang expo karena penyampaian kami untuk citarum jadi lebih mudah kemasyarakat. Apapun kami lakukan untuk Citarum dgn berbagai kreatifitas dari para relawan akhirnya bisa jual- jual marchandise yang bertemakan mengajak untuk peduli citarum seperti : Kaos, stiker, kerajinan tangan dan alat" musik tradisional sunda (Karinding).Dan hasil penjualannya 60% untuk citarum yang lebih jelasnya untuk kebutuhan kami sosialisasi citarum dari penyulusuran dll. Mudah- mudahan PEMERINTAH-PERUSAHAAN-MASYARAKAT tergeming hatinya untuk sungai citarum.

Posted By Unknown10.31

Rabu, 19 Desember 2012

Cinta Citarum

Takkan pernah berhenti untuk meyebarkan virus cinta citarum.... semoga mereka bertanya dalam hatinya.. Ada apa dengan citarum ?? Apa yang terjadi dengan citarum ??


Posted By Unknown11.16

Senin, 10 Desember 2012

DEKLARASI KEMERDEKAAN CITARUM

DEKLARASI KEMERDEKAAN CITARUM
diinisiasi  oleh Yayasan Kita Kita, SAR SAGARA dan SOG RESCUE bertujuan untuk mensinergikan ketiga unsur yg ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan DAS CITARUM saat ini yaitu :
1. NEGARA ( PEMERINTAH )
2. KORPORASI ( PERUSAHAAN )
3. MASYARAKAT

Untuk bahu membahu dengan kapasitas dan status sosialnya masing-masing menyelesaikan permasalahan Citarum tanpa saling menya
lahkan,

NEGARA dg kapasitasnya sebagai pemegang regulasi, harus bersikap tegas dalam menegakan peraturan untuk melindungi Citarum dari kerusakan yg lebih parah dan berperan lebih aktif dalam proses me-recovery ekosistem yg sudah rusak di sepanjang DAS CITARUM, baik dari sisi pengawasan, penganggaran sampai menjaga kelestariannya
ketika Citarum sudah kembali seperti dulu lagi

KORPORASI ; sebagai salah satu penyumbang kerusakan Citarum, untuk memulai memperbaiki sistem pembuangan limbahnya, baik limbah cair maupun padat dan turut serta secara aktif dalam proses me-recovery kondisi Citarum, sampai kondisi Citarum bebas dari polutan dimana mereka yg hari ini masih membuang limbahnya ke sungai tanpa melalui proses tretment terlebih dahulu, mulai memperbaikinya agar Citarum menjadi bersih lagi

MASYARAKAT ; ketika semua telunjuk mengarah ke industri/korporasi untuk kerusakan CItarum, ada hal yg terlupakan bahwa, hasil pengamatan kami di 4 titik jembatan yg menyebrangi sungai Citarum, setiap hari tdk kurang 1,4 ton sampah rumah tangga masuk ke sungai Ciatrum kontribusi dari kebiasaan masyarakat yg terbiasa membuang sampah ke sungai Citarum (hasil pengamatan selama 4 hari di 4 titik jembatan teluk jambe, jembatan galuh mas, jembatan bojong dan jembatan jenebin/pabrik es) ditambah lagi sepanjang bantaran sungai begitu banyak sampai menggunung setiap hari warga membuang dan menumpuk sampah rumah tangga di sepanjang bantaran sungai ciatarum.

Atas dasar hal tersebut diatas maka diawali oleh Yayasan Kita Kita, yg kemudian didukung oleh kawan-kawan dari SAR SAGARA dan SOG Rescue yg sangat peduli tehadap Citarum, kami menggas DEKLARASI KEMERDEKAAN CITARUM, dengan tujuan ketiga unsur tadi berkomitmen, secara bersama-sama tanpa saling menyalahkan untuk bahu membahu memperbaiki kondisi agar kembali menjadi sungai yg bersih, ekosistemnya diperbaiki menjadi baik lagi.

Deklarasi bukan sekedar dibacakan, ditandangani dan setelah itu selsai, justru deklarasi adalah langkah awal, menuju kerja-kerja nyata dilapangan dengan berbagai program bersama, simultan dan saling bersinergi sampai tercapainya tujuan dari DEKLARASI KEMERDEKAAN CITARUM...MERDEKA DARI SAMPAH YG MENGOTORINYA...

Forum Komunikasi DAS CITARUM disingkat menjadi

" Forka DAS Citarum " :
merupakan kelanjutan dari DEKLARASI, untuk melakukan kerja-kerja nyata demi perbaikan kondisi DAS CITARUM kedepan, dimana yg terlibat di dalam wadah ini merupakan gabungan ketiga unsur yg sdh disebutkan td diatas yaitu : NEGARA-KORPORASI-MASYARAKAT,

5 PROGRAM UTAMA DARI FORKA DAS CITARUM KEDEPAN ADALAH :

1. Peningkatan kerjasama dalam pengelolaan, perbaikan, pengawasan DAS CITARUM dg 48 desa yg dilintasi secara langsung oleh DAS Citarum

2. Membentuk Pos Pengawasa bersama di 48 Desa

3. Patroli bersama DAS Citarum

4. Pencerahan, terhadap semua eleman masyarakat yg terkait dg DAS Ciatrum

5. Pemberdayaan

Demikian PRESS RELEASE awal kami untuk acara DEKLARASI KEMERDEKAAN CITARUM

Posted By Unknown08.44